Artis dan Euforia Demokrasi

September 20, 2008 oleh bramoke

Fenomena yang menonjol dari komposisi calon legislatif (caleg) partai peserta pemilu 2009 adalah  banyaknya caleg yang berasal dari panggung hiburan. Dengan keunggulan dalam hal popularitas, parpol kini lebih memilih merekrut artis untuk dijadikan kader “instan” partai, ketimbang melakukan kaderisasi dari titik nol. Dari beragam ranah entertaiment, selebritas seorang artis diharapkan mampu mendulang suara suatu partai politi pada pemilu 2009 yang akan datang. Karena memang, antara panggung hiburan dan panggung politik memiliki kebutuhan yang sama: popularitas dan reputasi

Namun tentunya, label seorang artis untuk menjadi “caleg Partai A” atau “caleg Partai B” bermuara dari negosiasi politik yang panjang dan tidak sederhana. Penuh dengan kepentingan politik, prestise partai, dan yang tidak kalah pentingnya adalah rancang bangun strategi politik partai menuju tampuk kekuasaan mendatang.

Partai-partai yang merekrut artis yang hanya berdasar pada popularitas, justru hanya mempertunjukkan kesalahan pemahaman pada perspektif pepularitas dan politik. Politik adalah komitmen terhadap segala substansi yang berhubungan kepentingan publik dan kekuasaan. Sedangkan popularitas, adalah substansi yang lebih dinikmati oleh masing-masing individu. Pemahaman ini, harus benar-benar diresapi oleh partai politik yang merekrut artis. Jangan sampai, suatu partai merekrut artis karena berdasarkan popularitasnya, bukan pada kualitas individu.

Tidak tanggung-tanggung, partai yang dulu lekat dengan kaum pemuda dan intelektual seperti PAN, memboyong para artis untuk masuk dalam daftar calegnya. Deretan nama seperti Wulan Gurtino, Marini Zumarnis, Eko Patrio, Ikang Fawzi, Derry Drajad, Adrian Maulana, Raslina Rasyidin, sampai pada Mandra terpampang menjadi “jualan manis” PAN.

Begitu pula dengan Partai Golkar. Caleg artis yang diusungnya antara lain, Tantowi Yahya, Nurul Arifin, dan Jeremy Thomas. Sementara PDIP memasang Rieke Dyah Pitaloka, Edo Kondologit dan Dedy “Mi`ing” Gumelar. Tidak ketinggalan, Partai Buruh pun ikut pamer calon. Sempat dinyatakan tidak lolos verifikasi KPU, partai ini mengajak Pinkan Mambo untuk ditempatka di daerah pemilihan Sumatra Utara.

Argumen para pemimpin parpol yang merekrut para artis untuk menjadi caleg, bahwa mereka sudah melalui proses kaderisasi partai, tidak menjamin seorang artis memiliki loyalitas dan pemahaman tentang politik. Bisa dilihat, kader bukan artis yang sudah bertahun-tahun bersama partainya, bisa menjadi “tupai” dengan pindah ke partai lain atau membuat partai baru. Apalagi, seorang artis yang melewati proses kaderisasi yang singkat. Untuk kader berperilaku tupai seperti ini, patut diwaspadai loyalitas dan visinya untuk bangsa.

Idealnya, seorang kader partai politik harus memiliki loyalitas, militansi, dan berkomitmen terhadap ideologi partainya. Pencapaian untuk menjadi seorang kader yang disebutkan diatas, tidak bisa dicapai hanya dengan kaderisasi yang singkat. Mungkin sulit ditemui, kader-kader partai seperti Bung Karno dengan marhaenisme-nya, atau Semaun yang berjiwa sosialisme.

Melirik sejenak ke Amerika, Demokrasi di Negeri Paman Sam tersebut sudah sangat maju. Dengan standar pendidikan yang tinggi, maka tidak heran jika para artis bisa saja masuk ke arena panggung politik. Artis Ronald Reagan mengukir sejarah dengan melangkah ke Gedung Putih, sementara Arnold Schwarzeneger sebagai Gubernur Amerika. Atau ke Perancis, dengan presiden Francois Mitterand yang juga seorang novelis yang cukup produktif, memimpin Perancis pada tahun 1981 hingga 1995. Bahkan, negara tetangga kita, Filipina yang pernah dipimpin oleh Presiden Joseph Estrada.

Menyimak banyaknya negara yang bisa dijadikan contoh masuknya artis ke dalam arena politik, menunjukkan bahwa partisipasi politik merupakan hak setiap warga negara. Dalam tulisan teoritisi komunikasi politik, Dan Nimmo (1989), ada dua jenis politisi. Pertama politisi wakil yaitu politisi yang menjadi perwakilan politik individu atau kelompok. Biasanya, mendapatkan keuntungan berupa hak istimewa untuk masuk ke jabatan publik baik di legislatif maupun di eksekutif tanpa harus menguji militansi, loyalitas, dan pengalaman politik mereka.

Kedua, politisi ideolog yaitu politisi yang merepresentasikan nilai-nilai normatif dan loyalitas individu dalam bentuk perjuangan politik kolektif yang diusung partai politik. Meskipun politisi wakil dan ideolog membawa label partai yang sama, substansi dan pembobotan aktivitasnya tentu saja sangat berbeda. Politisi wakil, bukan lahir dari suatu mekanisme kaderisasi yang panjang, melainkan karena “magnet popularitas” yang dianggap memadai untuk menjadi duta partai politik. Dalam konteks inilah, seringkali caleg artis mendapatkan momentumnya.

Walaupun para artis terkesan dimanfaatkan partai untuk mendongkrak popularitas dan finansial partai, namun ada juga artis yang memang sudah lama berkecimpung dalam dunia politik, aktivitas sosial dan LSM. Contohnya adalah Alm. Sophan Sophian, Nurul Arifin dan Rieke Dyah Pitaloka. Dua nama terkahir, selain aktivitasnya di LSM, juga aktif dalam menyuaraka isu-isu yang terkait persoalan gender dan hak asasi manusia.

Harapannya, berbondong-bondongnya artis masuk ke dalam arena politi,k jangan hanya berdsarkan popularitas belaka, namun juga komitmennya terhadap kepentingan publik. Kita tunggu saja, program-program yang akan dipaparkan oleh “sang penghibur”, jangan hanya janji-janji dan gombalisasi

Mengapa kucing mengeong dan mengubur kotorannya?

Agustus 25, 2008 oleh bramoke

Alkisah, pada jaman dahulu, kucing layaknya seperti manusia. Bisa berbicara dan hidup berdampingan. Manusis dan kucing berbaur satu sama lain, seperti layaknya manusia yang sekarang. Saat itu, kehidupan kucing dan manusia sangat tentram dan toleran. Berbeda dengan sekarang, dimana sesama manusia justru saling menghancurkan.

Adalah seorang raja kucing yang bernama Raja Kucing Ron, seorang pemimpin bangsa kucing yang bijak, adil, peduli pada bangsanya dan toleran terhadap kehadiran manusia. Raja Kucing Ron mempunyai seorang putri bernama Putri Katty. Sangat cantik, cerdas, dan memiliki mata kucing yang indah. Sayang, Raja Kucing Ron tidak mempunyai anak laki-laki untuk mewarisi kerajaan kucingnya. Maka, diadakanlah sayembara untuk menentukan pemimpin selanjutnya bangsa kucing, dengan cara menikahi Putri Katty. Karena saat itu bangsa kucing bisa berbicara dan menulis layaknya manusia, maka sampailah sayembara tersebut kepada bangsa manusia.
“Dunia bangsa kucing di negeri seberang mengadakan sayembara. Barang siapa yang bisa melewati ujian, akan dinikahkan dengan Putri Katty dan menjadi pemimpin bangsa kucing,” ujar seorang anggota MASSOD, mata-mata manusia untuk kerajaan kucing kepada Raja Manu, pemimpin bangsa manuisia.

“Sampai saat ini, bangsa kita tidak mampu mengalahkan bangsa kucing, karena kekuatan mistis mereka. Pasukan mereka tidak pernah mati, kecuali jika sudah dibunuh sebanyak sembilan kali. Sedangkan pasukan kita, hanya punya nyawa satu. Apakah kamu punya informasi tentang kekuatan rahasisa mereka?” tanya raja pada anggoota MASSOD.

“Ada, tuanku. Kekuatan bangsa kucing terletak pada cincin yang dipakai oleh Raja Kucing Ron. Cincin tersebut mempunyai kekuatan untuk menghidupkan kembali pasukan kucing sebanyak sembilan kali. Cincin itu dinamakan Soul Ring. Tanpa cincin itu, pasukan kucing tidak bisa berbuat apa-apa,” jelas anggota MOSSAD.

Setelah menerima informasi yang sangat berharga tersebut, maka Raja Manu segera membentuk tim untuk mencuri cincin tersebut. Dipimpin oleh Kapten Zriss, Tim Pencuri Cincin (TPC) yang sudah dilatih secara khusus selama 9 bulan segera pergi ke negeri kucing untuk melaksanakan tugas: mencuri soul ring dan membunuh calon raja terpilih. Setelah cincin jatuh ke tangan Raja Manu, maka sudah saatnya bangsa kucing dimusnahkan.

Negeri Seberang, Negara Kucing

Kapten Zriss beserta anak buahnya berhasil mengumpulkan informasi dan merencanakan skema pencurian soul ring dan pembunuhan calon raja terpilih. Akhirnya, pada malam sebelum penobatan raja kucing, Kapten Zriss berhasil mencuri soul ring, namun gagal untuk membunuh calon raja terpilih, bernama Tom. Tom, yang mengetahui rencana TPC untuk membunuhnya berhasil melarikan diri ke hutan, bersama Putri Katty.

Mengetahui soul ring dicuri, Raja Kucing Ron pun segera menghimpun pasukan, karena pasti bangsa manusia akan langsung menyerang bangsa kucing. Namun sebelumnya, seorang utusan Raja Kucing Ron yang paling dipercaya bernama Jerry diperintahkan untuk menyusul Tom dan Katty ke hutan untuk menyampaikan sebuah surat.

Hari peperangan telah tiba. Pasukan bangsa kucing telah kehilangan kekuatannya, sehingga hanya mempunyai satu nyawa seperti bangasa manusia. Sayang, karena tipu muslihat dan teknologi senjata yang lebih unggul dari pasukan bangsa kucing, akhirnya negara kucing berhasil dikuasai. Namun, ternyata soul ring yang telah dicuri ternyata tidak bisa digunakan oleh manusia. Hanya bansa kucing yang mempu menggunakannya.

Di hutan, Tom, Jerry beserta Katty bersama-sama membaca surat yang ditulis oleh Raja Kucing Ron:

“Wahai putraku, Tom. Saya menulis surat ini untuk memberi tahumu, bahwa soul ring tidak dapat digunakan oleh manusia. Hanya bangsa kita yang bisa menggunakannya. Kekuatan soul ring bisa memberikan kekuatan berupa menambah nyawa bangsa kita menjadi sembilan. Oleh karenanya, jika negeri kita telah dihancurkan oleh bangsa manusia, maka hanya kamulah satu-satunya harapan untukmempertahankan keberadaan bangsa kucing di dunia ini.

Soul ring, ternyata hanya merupakan benda yang membuat bangsa kita menjadi sombong. Karena kita sombong mempunyai nyawa sembilan, maka akibatnya bangsa kucing menjadi hancur oleh banysa yang hanya mempunyai satu nyawa, bangsa manusia. Oleh karenyanya, saya harap kamu menngambil kembali soul ring, dan segera mengahncurkannya. Saya sudah utuskan seorang pencuri ulung bernama Jerry untuk melakukannya. Sekali lagi, hancurkan soul ring.”

Setelah membaca surat itu, Tom dan Jerry segera pergi menuju bangsa Manusia untuk mengambil kembali soul ring. Singkatnya, mereka berdua berhasil. Mengetahui masih ada bangsa kucing yang hidup, Raja Manu memerintahkan pasukan Detasmen 99, pasukan elit pemburu untuk mengejar Tom dan Jerry. Dekejar-kejar pasukan elit, membuat Tom dan Jerry kembali ke hutan menemui putri Katty. Sebenarnya bisa saja Tom menggunakan soul ring untuk bertempur melawan pasukan Detasmen 99, namun dia ingat pesan Raja Kucing Ron bahwa soul ring bisa membuat penggunanya lupa diri dan sombong. Tom pun akhirnya tidak menggunakan soul ring.

Setelah lolos dari kejaran Detasmen 99, Tomm Jerry dan Putri Katty kini bisa berkonsentrasi untuk mencari cara menghancurkan soul ring. Segala upaya dilakukannya, namun tidak berhasil. Ditengah keputusasaan, Jerry menemukan ide gila: Dimakan. Setelah menimbang masak-masak, maka Tom berkorban untuk memakan soul ring.

Setelah memakan soul ring, Tom pun tidak bisa berbicara kembali, karena ternyata soul ring telah merusak pita suaranya. Tom, hanya bisa bertriak “meeeeoooonnnggg…..meeeoooonnngggg…..”. Demi menjaga agar soul ring tidak ditemukan, maka ketika Tom melakukan Buang Air Besar (BAB), dia selalu mengubur kotorannya, karena ditakutkan ada soul ring di dalamnya. Keturunan Tom dan Putri Katty pun demikian, bersuara “meeeooonnnggg…..” dan selalu mengubur kotorannya.

Demikian asal usul mengapa kucing selalu mengeong dan mengubur kotorannya. Percaya atau tidak?????

Calon Presiden, harus yang bagaimana??

Agustus 6, 2008 oleh bramoke

Menarik ungkapan yang dilontarkan oleh Amien Rais, saat diskusi di salah satu stasiun TV swasta: “Saat berhadapan dengan calon presiden, kita selalu bertanya apa yang akan dilakukan atau apa yang dijanjikan oleh calon tersebut seandainya terpilih menjadi presiden. Kita tidak pernah bertanya, mengapa anda ingin menjadi presiden?”

Pertanyaan “mengapa anda ingin menjadi presiden?”, simpel namun dalam. Salah menjawab sedikit saja, bisa membuat sang calon kehilangan popularitas di mata publik. Biarlah yang menjawab sang calon presiden, namun setidaknya kita harus mempunyai nilai minimal yang memang pas untuk menjadi calon presiden.

Masyarakat saat ini meributkan, calon presiden harus yang muda, inovatif, tegas, dan latar belakang pendidikan yang mumpuni. Namun tidak sedikit pula yang menginginkan calon yang berpengalaman (baca: tua, berumur).

Saat membaca sebuah berita yang diangkat di salah satu media cetak, calon presiden setidaknya harus mempunyai 2 sifat: berkomitmen untuk bangsa, dan mempunya rasa empati terhadap rakyat. Itulah yang harus dimiliki oleh seorang calon, bukan justru meributkan aturan-aturan teknis seperti masalah umur, pendidikan, kesehatan, dsb.

Namun, jika kita bertemu dengan seorang calon presiden, pantas bila kita bertanya untuk pertanyaan pertama: “Mengapa anda ingin menjadi presiden?????”